Chapter 1 : Kesempurnaan yang sunyi
Aku menatap keluar jendela. Hujan..Aku selalu menyukai hujan,karena hujan mengingatkanku akan segala sesuatu pasti akan berakhir dengan bahagia,jika kita tabah melewatinya.
Seperti halnya hujan akan berhenti jika kita menunggu dan mensyukuri adanya hujan dan pelangipun akan muncul.
Aku ingin keluar,bermain dibawah hujan seperti yang dilakukan anak-anak lain..
Aku berbeda dari mereka,aku diberikan lebih dan bisa melakukan lebih dari mereka. Karena itu aku lebih memilih menjauhi mereka daripada menangis karena iri terhadap anak-anak yang lain.
Aku terlahir dari keluarga yang kaya raya.Ayahku adalah seorang ilmuwan berdarah biru yang mempunyai segudang penghargaan,sedangkan Ibuku adalah seorang pianis jenius yang mampu menciptakan sebuah rangkaian melodi yang indahnya tiada tara.
Akupun mewarisi bakat mereka,aku terlahir jenius,memiliki sifat yang baik,dan bisa melakukan apapun meskipun baru belajar sebentar.dianugerahi kecantikan yang mampu memikat hati pria manapun,bahkan ada yang ingin menjadikanku calon istri mereka kelak jika aku sudah tumbuh dewasa,tetapi untungnya orang tuaku menolaknya.
Satu kata untuk mendeskripsikanku,Sempurna..
Tetapi karena itu aku tidak mempunyai imajinasi murni yang layaknya dimiliki oleh anak-anak yang lain.Jika anak-anak yang lain melihat awan berlapis yang menurut mereka adalah selimut yang dimiliki oleh kakek matahari menurutku itu adalah awan stratocumulus yang berpotensi menghasilkan gerimis atau hujan.Jika mereka berceloteh tentang dunia fantasi mereka aku lebih memilih untuk mendeklamasikan pidatoku tentang masalah sosial yang ada di benua afrika.
Saat pelajaran menggambar mereka menggambar coretan yang tidak karuan dan bagi mereka itu adalah istana dimana kuda-kuda unicorn mereka mengelilinginya secara elegan. Tentu aku akan melukis pemandangan yang setara dengan pelukis profesional.Jika mereka menyanyikan lagu dengan nada yang tidak beraturan aku akan menyanyikannya dengan nada dan intonasi yang sesuai.Ketika bermain di lapangan sekolah mereka melempar bola secara tidak akurat,sedangkan aku mampu membidiknya secara sempurna. Kalau mereka hanya mampu memainkan lagu yang sangat sederhana aku bisa memainkan karya Franz Lizst dengan sempurna di piano dengan penuh perasaan.
Seharusnya aku bersyukur,tetapi aku lebih mengharapkan untuk menjadi normal,aku ingin imajinasiku sesuai dengan anak seumuranku..Aku ingin melakukan kecorobohan yang biasa dilakukan oleh anak kecil supaya itu bisa menjadi pelajaran seumur hidup.Apapun yang kulakukan sempurna,meskipun aku membuat kesalahan ternyata kesalahan itu adalah suatu kebaikan yang dilakukan secara tidak sengaja.
Ada lagi yang aku inginkan yang hampir tidak mungkin untuk didapatkan..Cinta dari orang tuaku.
Aku mendapatkan cinta dari orang tuaku,sayangnya aku sangat jarang bertemu dengan mereka.
Saat aku sudah terlelap mereka baru membuka pintu rumah sehabis pulang kerja.Mereka memang mencium keningku setiap malam tetapi setiap kali aku ingin bangkit dari tempat tidur mereka sudah berada di kamar mereka.Waktu sarapan adalah satu-satunya waktu aku bertemu dengan mereka,dan saat itu mereka mencurahkan kasih sayang mereka kepadaku sepenuhnya.
Aku sangat bahagia,sayangnya hanya berlangsung selama 10 menit.Setelah itu aku harus bergegs untuk berangkat ke sekolah.Aku berharap Ayah atau Ibu mengantarku,tetapi aku memiliki supir pribadi yang siap mengantarkanku kemana saja,kapanpun.
Mereka mengecup pipiku,dan aku pun tersenyum.Mereka mengucapkan selamat belajar dan mengatakan kepadaku untuk melakukan segalanya dengan baik daripada kemarin.Aku semangat ketika mereka mengatakannya kepadaku.Tetapi makin lama memudar karena aku sangat merindukan mereka.
Aku sangat iri kepada anak-anak yang lain,karena mereka bisa melakukan kesalahan dan orang tua mereka selalu ada...
Seharusnya aku bersyukur...Tetapi tidak bisa..
0 comments:
Post a Comment